Tidak Membawa Kartu Identitas ke Masjid Al Haram, Jemaah Umroh Dibawa Polisi

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq April 1, 2018 08:20

Tidak Membawa Kartu Identitas ke Masjid Al Haram, Jemaah Umroh Dibawa Polisi

Makkah (KUH-KJRI) Divisi penanganan kasus jemaah umroh kembali mendapatkan pengaduan kasus yang dialami oleh jemaah umroh Indonesia. Jemaah umroh yang sedang dirundung masalah tersebut adalah MAS (38) yang berasal dari Kuningan Cirebon. Jemaah yang berangkat dengan travel PT Jannatul Firdaus ini harus berurusan dengan polisi yang bertugas di Masjid Al-Haram Makkah lantaran lupa membawa kartu identitas.

Informasi permasalahan tersebut diperoleh Muhammad Syafi’I Hasyim selaku pelaksana penyelesaian kasus jemaah umroh Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI yang sedang bertugas di Makkah pada sekitar pukul lima sore kemarin (31/03). Dan segera mengambil tindakan dan berkoordinasi dengan Pelaksana Fungsi Konsuler 3 KJRI Jeddah Ainur Rifqie Madanie.

Awalnya, laporan insiden tersebut diperoleh dari Zulkarnain Nasution. Salah satu tim advance penyiapan akomodasi perumahan dari Ditjend PHU Kemenag RI yang sedang menjalankan tugas kasyfiyah (survey) area pemondokan untuk jemaah haji di sekitar lokasi kejadian. Mengetaui kejadian tersebut Zulkarnain melaporkan ke Syafi’i yang memang diketahuinya bertugas untuk penanganan hal ini. Dan akhirnya juga ikut membantu mengawal penyelesaian masalah ini karena merasa ikut bertanggung jawab kepada warga negara Indonesia yang berada di Arab Saudi.

Saat dikonfirmasi tim media MAS (38) mengisahkan bahwa dirinya sedang ke masjid Al-Haram Makkah untuk melaksanakan ibadah dan mengambil air zazam. Namun nahas, ada seorang oknum polisi yang bertugas di area masjid tersebut menghampiri dan memeriksa. Dan ketika ditanya okmum polisi tersebut, jemaah mengaku terkendala bahasa. Dan seperti SOP petugas keamanan lainnya, penjaga masjid tersebut menanyakan kokumen identitas dan MAS tidak dapat menunjukkannya saat itu.

“Saya sekitar jam 9 pagi, pergi ke masjid Al-Haram untuk melaksanakan ibadah dan mengambil air zazam. Dengan menggunakan gamis (baju khas arab, red). Lupa membawa ID card (kartu identitas), tapi mau kembali kuatir waktunya gak cukup karena ada agenda lain. Dan pada sekitar jam 10-an, ada polisi yang datang memeriksa. Karena mungkin dikira seperti orang arab (seperti mukimin dengan baju gamis, red), saya ditanya dengan bahasa arab, dan polisi itu semakin lama semakin emosi, ya mungkin karena terkendala bahasa”, kisah MAS kepada tim media KUH.

Kare polisi tersebut merasa tidak menemukan solusi saat itu, akhirnya MAS dibawa ke pos polisi terdekat dan dimintai keterangan. Dan menurutnya, pada sekitar jam 12 siang dirinya dibawa ke area karantina Tarhil di daerah Sumaisi. MAS yang seorang diri ketika mengalami hal itu hanya bisa pasrah dan mengikuti saat diangkut dengan mobil polisi.

“Setelah ditanya-tanya di pos polisi tersebut, kemudian saya dibawa menggunakan mobil polisi ke tempat karantina Tarhil. Saya mengikuti polisi tersebut sampai ke Sumaisi. Saya hanya sendirian, dan ketika sampai di tempat karantina saya bertemu beberapa orang Indonesia lainnya.

Sementara MAS telah berada di Tarhil, Syafi’i yang telah menerima laporan tersebut, tetap memproses dengan prosedur penanganan kasus bersama Rifqie selaku Pelaksana Fungsi Konsuler 3 KJRI. Syafi’i menyampaikan telah menghubungi muthowwif dan tour leader perusahaan travel yang menghendel. Menurut informasi dari muthowwif yang bertugas saat itu, passport MAS telah di serahkan ke muassasa provider visa yang digunakan, sebagai penanggungjawab dan prosedur penyelesaian masalah ketika berada di wilayah Arab Saudi.

“Setelah mendapat laporan, kemudian ditindak lanjuti dengan prosedur penangan dan berkoordinasi dengan KJRI. Tadi saya menghubungi Pak Rifqie selaku Pelaksana Fungsi Konsuler 3 KJRI. Kemudian muthowwif dan tour leader yang menghendel kami hubungi, dan mengontak pihak Tarhil untuk mengonfirmasi bahwa telah terjadi permasalahan. Ketika kami ditanya tentang dokumen identitas MAS, kami kemudian sampaikan sesuai dengan informasi dari muthowwif bahwa passport telah diserahkan ke muassasa sebagai penanggung jawab provider visa dan prosedur penyelesaian masalah”, ujar Syafi’i.

Dan beruntung, jemaah yang juga sedang berbulan madu tersebut bisa keluar dari Tarhil lebih cepat dari yang diperkirakan. Awalnya, proses administrasi tidak dapat dilakukan karena hari libur dan menunggu hari aktif untuk melanjutkan. Akan tetapi jemaah umroh asal Cirebon ini berusaha berkomunikasi kembali dengan petugas di Tarhil, dan akhirnya menemui titik terang. Dirinya mengaku dipisahkan dari expat lain yang juga sedang dikarantina. Dan kemudian petugas Tarhil mengizinkan untuk kembali ke rombongan.

“Alhamdulillah, atas berkat doa dari semuanya akhirnya saya bisa keluar lebih cepat (dari Tarhil, red). Saat tiba di Tarhil, saya mencoba berkomunikasi lagi dengan penjaga yang bertugas saat itu. Alhamdulillah, awalnya saya dipisahkan dari orang-orang yang dikarantina lainnya. Dan kemudian saya diizinkan untuk kembali ke rombongan. Setelah keluar dari Tarhil diikutkan mobil yang mengarah ke Masjid Al Haram, dan diturunkan skitar kurang lebih 7 km dari sini (hotel tempat menginap, red). Kemudian berjalan kaki hingga sampai disini, dan Alhamdulillah berkat doa semuanya saya bisa segera kembali ke sini”, kisah MAS kepada tim media KUH dan semua pihak yang saat itu turut hadir.(KUH/Zky)

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq April 1, 2018 08:20
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*