Terancam Dideportasi, Para Santri Tahfidz Al Quran Ini Akhirnya Menuai Simpati

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq October 23, 2018 15:45

Terancam Dideportasi, Para Santri Tahfidz Al Quran Ini Akhirnya Menuai Simpati

Jeddah (KUHI) Pelayanan kepada tamu Allah, selalu menjadi fokus para petugas di Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI Jeddah. Begitupun kepada 17 orang jemaah umroh asal Kalimantan yang ditahan pihak imigrasi Kerajaan Arab Saudi (KSA), lantaran tidak membawa dokumen identitas saat memasuki wilayah bandara internasional King Abdul Aziz (KAAIA) Jeddah.

Kejadian ini berawal dari perjalanan ibadah umroh santri dan pembimbingnya dari Indonesia menuju ke Arab Saudi dengan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur Malaysia. Saat akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah, salah satu oknum petugas travel PT ZI yang meng-handle perjalanan para santri tahfidz ini melakukan keteledoran yang fatal. Sejumlah dokumen penting, yakni 17 pasport dari 25 klien jemaah umroh-nya tertinggal di bandara Internasional Kuala Lumpur.

Menurut keterangan Staf Teknis Haji (STH) 2 KUH KJRI Amin Handoyo, ia menerima laporan kejadian tersebut sekitar pukul 00.04 WAS dini hari kemarin (22/10). Bahwa ada jemaah umroh yang terancam akan dideportasi karena tidak membawa passport. “Waktu itu ada telepon pada pukul 00.04 WAS, yang menginformasikan bahwasanya ada jemaah yang terancam dideportasi karena tidak membawa passport”, kata Amin Handoyo saat dikonfirmasi.

Setelah mendapat informasi tersebut, Amin Handoyo langsung berangkat menuju ke bandara KKIA Jeddah dini hari itu juga. Jemaah umroh yang 15 diantaranya adalah anak-anak yatim santri tahfidz Al Qur’an berusia sekitar 7 – 8 tahun tersebut sudah berada di bandara KAAIA dengan kondisi tertahan di bagian keimigrasian bandara. Mereka yang tidak membawa dokumen terancam akan dideportasi kembali ke Indonesia.

“Setelah mendapat informasi tersebut kami langsung ke bandara dan bertemu dengan Akid Muhammad bin Mani’ Al Qahthani, wakil manajer imigrasi bandara KAAIA Jeddah. Ternayata di sana ada 25 orang yang sedang dalam proses imigrasi. Dari 25 orang itu ada 17 orang yang passport-nya ketinggalan, artinya tidak memdawa dokumen. Dari 17 orang itu yang 15 adalah anak-anak yatim yang usianya 7-8 tahun. Dan mereka (yang tidak membawa dokumen, red) terancam dideportasi ke Indonesia”, terang Amin Handoyo.

Hal senada disampaikan oleh Syafi’I Hasyim, petugas divisi umroh KUH KJRI yang saat kejadian itu sedang bertugas sebagai tim visitasi di Madinah untuk pemulangan jemaah haji yang sakit. “Saat itu saya sedang di bandara Madinah (Prince Muhammad bin Abdulaziz International Airport, red) untuk pemulangan jemaah haji sakit asal Medan. Menjelang penerbangan pasien jemaah haji tersebut, saya mendapat panggilan telepon dari Mr. Akid Muhammad bin Mani’ Al Qahthani wakil direktur Imigrasi bandara KAAIA”, kata Syafi’i.

“Setelah menerima informasi kejadian itu, saya langsung kontak dan berkoordinasi dengan Pak Amin (STH 2, red). Setelah proses pemulangan jemaah pukul 00.15 WAS di Madinah, saya langsung berangkat ke Jeddah bersama Sumar (rekan kerja Syafi’I di KUH, red) untuk membantu upaya penyelesaiannya”, imbuh Syafi’i.

Meskipun situasi kurang mendukung, STH 2 KUH ini tetap mengupayakan solusi untuk permasalahan yang melanda perjalanan ibadah umroh rombongan santri yatim tahfidzul Qur’an itu. Diupayakannya mediasi dengan pihak imigrasi bandara. Dan setelah melalui proses negosiasi yang tidak terlalu lama, akhirnya disepakati penyelesaiannya dengan penjaminan dari pihak KJRI untuk dibuatkan dokumen sementara semakai indentitas legal saat berada di wilayah Arab Saudi.

“Karena kita melihat jemaah ini anak-anak yatim, maka kami berusaha mencarikan solusi. Saat kami konfirmasi kenapa hal ini bisa terjadi, pihak maskapai Saudia yang saat itu juga ada tour leader-nya (petugas PT ZI, red) mengatakan bahwa dokumen itu tertinggal di Saudia Malaysia (counter maskapai Saudia bandara Kuala Lumpur, red). Dokumen-dokumen itu ditaruh di kursi kemudian lupa, dan berangkat lagi tidak membawa dokumen”, tutur Amin Handoyo.

“Kemudian antar manajemen Saudia saling kontak, dan diinformasikan ternyata sudah ditemukan. Maka setelah itu pihak imigrasi bisa memproses dengan jaminan bahwa kantor perwakilan dalam hal ini adalah KJRI, apabila passport tidak ditemukan maka KJRI bertanggung jawab untuk menggantikannya dengan semacam dokumen SPLP”, lanjut Amin.

Beruntung jemaah rombongan jemaah umroh tersebut dilengkadengan ID Card yang mencantumkan nama dan nomer passport, sehingga pihak imigrasi bandara bisa memproses pencetakan visa dan pengambilan data biometrik.

“Jemaah umroh ini kemudian bisa diproses di imigrasi bandara dengan kelengkapan ID Card nya yang mencantumkan nama dan nomer passport. Sehingga dengan data tersebut pihak imigrasi bisa mencetak visa. Dengan visa ini bisa menjadi dasar imigrasi untuk dilanjutkan dengan pengambilan sidikjari dan kemudian didata keimigrasian bisa dilacak. Kekurangannya tinggal stempel passport”, kata Amin.

Setelah mendapatkan perlakuan khusus selama proses di keimigrasian, rombongan jemaah umroh ini meninggalkan bandara skitar pukul 03.30 WAS. Sambil menunggu penyelesaian pengiriman passport dari Malaysia melalui maskapai Saudia, rombongan jemaah ini dapat melanjutkan agenda perjalanan ibadah umrohnya.

“Ada perlakuan khusus selama proses di keimigrasian, kemudian selesai dan keluar bandara sekitar pukul 03.30 WAS”, kata Amin.

Setelah passport sudah sampai di Jeddah, Mr Al Akid menginformasikan kepada Amin Handoyo untuk segera mengambil. “Ketika passport sampai, Al Akid Muhammad bin Mani’ kontak kami supaya segera mengambil. Mereka mengabarkan kepada kita bahwa passport sudah sampai. Dan puku 22.00 WAS malam tadi (22/10) kita ambil”, kata Amin.

Selama penyelesaian kasus ini, Amin mengatakan tidak sampai ada proses evakuasi. Hal ini karena adanya penjaminan dari KJRI. “Tidak sampai ada evakuasi, karena KJRI sudah memberikan jaminan, dan pihak imigrasi sudah mau memproses”, tutur Amin.

Petugas imigrasi bandara pun menyempatkan untuk menguji kemampuan hafalan santri tahfidz tersebut. Dan begitu mereka mengetahui kemampuannya, para tahfidz cilik tersebut banyak menuai simpati dari warga Saudi yang menyaksikannya. Diantara dari mereka bahkan ada yang memberi makanan dan uang saku. Amin mengatakan disini terlihat sisi humanis warga Arab Saudi.

“Mereka anak-anak yang pintar sekali. Saat disana ditanya oleh petugas imigrasi apakah hafal Al Qur’an, mereka mengatakan hafal Al Qur’an. Kemudian mereka diminta meng hafal Al Qur’an, mereka pun menghafal bareng-bareng. Disini terlihat sisi humanis orang Arab Saudi, mereka sangat peduli kepada orang-orang yang punya background keimanan. Seakan-akan mereka ingin mengambil berkah. Diantara dari mereka ada yang memberikan roti, uang dan sebagainya.

Pada akhir keterangannya, Amin menyampaikan bahwa perlunya ketelitian. Karena satu kecerobohan yang sangat sederhana saja bisa mengakibatkan masalah yang besar. “Yang menjadi pelajaran bagi kita, satu hal kecerobohan yang sangat sederhana dapat mengakibatkan masalah yang sangat besar”, pungkas Amin.

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq October 23, 2018 15:45
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*