Sisi Lain Petugas Haji Dari Sudut Pandang di Lapangan

Hasyim
By Hasyim August 19, 2017 02:52

Sisi Lain Petugas Haji Dari Sudut Pandang di Lapangan

Menjadi Petugas Haji merupakan pekerjaan yang mulia dan banyak menjadi incaran banyak orang, mulai dari Pejabat, Aparat Keamanan baik dari TNI dan POLRI, PNS, Mahasiswa  internasional maupun Mukimin Arab Saudi, dimana bukan hanya mengincar pekerjaan semata tapi pengabdian kepada Negara dan Agama bahwa tiada nikmat lagi di dunia tatkala bisa mengikuti jejak para pemimpin Islam menjadi pelayan tamu Allah seperti halnya Raja-Raja Arab yang selalu di beri gelar KHADIMUL HARAMAIN.

Petugas Haji merupakan orang-orang pilihan, yang disaring melalui berbagai mekanisme yang ketat, mulai dari test tertulis, pengetahuan, praktek dan interview.

Seluruh petugas yang terpilih harus saling bersinergi satu sama lain dan meninggalkan setatus sosialnya masing-masing, di team ini tidak ada yang namanya pejabat, tidak ada yang namanya aparat, baik mahasiswa maupun mukimin, semua sama saling bersinergi dalam satu misi ONE TEAM, ONE SPIRITE, ONE GO dibawah naungan PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) dengan misi, “SUKSESKAN MISI HAJI INDONESIA”

Survey yang kami himpun dilapangan tujuan utama bertugas adalah berhidmat kepada Duyufurrohman (Melayani Tamu Allah), namun dibalik itu setiap petugas akan mendapatkan fasilitas penunjang yang memadai serta gaji yang masih tergolong standart bila dibandingkan dengan lima tahun kebelakang.

Petugas yang terpilih diwajibkan untuk mengikuti S.O.P yang telah ditentukan dan dituntut untuk bekerja secara Profesional dan Amanah, selalu siap setiap saat, bila sewaktu-waktu dibutuhkan, bukan itu saja seluruh aktifitas serta keberadaan kita dipantau melalui system application Sisco PPIH yang dapat mengakses posisi masing-masing petugas, jika didapati tidak bekerja sesuai prosedur atau tidak berada di post yang telah ditentukan maka kita akan mendapat sangsi yang beragam, mulai dari teguran lisan, tertulis bahkan bisa berdampak blacklist (catatan hitam), dengan blacklist maka untuk tahun-tahun berikutnya kita tidak bisa ikut serta dalam team ini.

Selain itu, setiap petugas harus mempunyai jiwa penyabar dan penyayang terutama saat menghadapi jamaah haji yang lanjut usia, karna 80% jamaah haji Indonesia rata-rata berusia 60 – 80 tahun.

BANYAKNYA JAMAAH YANG TERSESAT

Kesulitan yang sering dialami petugas di lapangan adalah memilih antara kedisiplinan dan keperdulian, saat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai tugas pokok, tidak jarang kami menemukan jamaah haji yang tersesat jauh dari lingkungan jamaah Indonesia, bahkan sampai kepermukiman penduduk, rata-rata jamaah yang tersesat adalah jamaah yang lanjut usia, karena faktor usia tersebut, banyak sekali diantara mereka yang lupa bahwa mereka sedang berada di tanah suci.

Dalam keadaan seperti itu sebagai petugas kita harus mengedepankan langkah penyelamatan sebagai wujud pelayanan kita terhadap jemaah, tentunya dengan cara berkomunikasi di lapangan tempat kita ditugaskan atau kita amankan kesektor terdekat untuk diberikan bantuan selanjutnya.

Sulitnya lagi banyak dari jamaah yang enggan untuk kita bantu biasanya karena faktor komunikasi dan suku yang berbeda, disinilah kepiawaian dan kesabaran kita sebagai petugas di uji,

PELAYANAN ISTIMEWA PEMERINTAH TERHADAP JEMAAH HAJI INDONESIA

Sebagai aktifis yang aktif dibidang kemanusiaan sekaligus pemerhati kebijakan pemerintah tidak jarang kritik serta penilaian miring sering kami lontarkan terutama mengenai system perlindungan dan pelayanan.

Seiring berjalannya waktu ada dorongan hati untuk terjun langsung agar dapat turut serta menjadi bagian dari petugas haji, dengan disertai niat mensukseskan misi Negara diawali ucapan Bismillah kami masuk kedalamnya.

Sejak saat itulah kami menyadari terdapat sudut pandang yang berbeda antara pemerhati dan pelaksana lapangan, fakta yang kami temui dilapangan adalah kehadiran pemerintah yang memberikan pelayanan dan perlindungan dan juga penyambutan yang luar biasa, bahkan hal ini tidak dilakukana oleh negara manapun.

Mulai dari penyediaan petugas khusus untuk menangani jemaah yang tersesat, penyediaan pemondokan sekelas bintang empat yang sekaligus ditunjang oleh layanan ratusan tranportasi yang bergerak setiap lima menit dan beroperasi 24jam Non Stop.

Serta penyambutan gelombang pertama dan kedua, dimana jemaah disambut langsung oleh pejabat tinggi negara hingga pimpinan muassasah, yang membuat kami terharu dan bangga adalah penyambutan super istimewa kepada jamaah haji Indonesia setibanya mereka dipemondokan di Tanah Suci Makkah.

Jika dibandingkan dengan negara lain yang sering kami jumpai banyak dari mereka tercecer hingga kerumah-rumah penduduk yang jauh dari Masjidil Haram dan tidak adanya layanan transportasi.

Indonesia selalu mendapatkan nilai positif dan mengagumkan dari pihak otoritas Arab Saudi selaku tuan rumah ibadah haji, mulai dari kesantunan hingga kesigapan petugasnya dalam memberikan pelayanan, kerapian uniform dan kedisiplinan menjadikan nilai tersendiri untuk Indonesia.

Meskipun begitu pemerintah tidak boleh terlena  dengan perolehan point yang membanggakan tersebut, mengingat ibadah haji merupakan ritual ummat Islam yang akan tetap ada hingga Yaumul Qiamah, sebaik apapun upaya pemerintah untuk dapat memberikan pelayanan terhadap tamu-tamu Allah. pasti akan tetap meninggalkan kesan dan nilai yang jauh dari kesempurnaan, terlebih lagi bila dinilai dari sudut pandang yang berbeda.

Oleh karna itu perbaikan demi perbaikan dari masa ke masa tetap harus di prioritaskan dan harus disesuaikan dengan perubahan zaman demi pengabdian terbaik serta keperdulian pemerintah terhadap Duyufurrohman.

By: Mohammad Jainury Abdul Syuk

Tenaga Pendukung PPIH 1438H

Hasyim
By Hasyim August 19, 2017 02:52
Write a comment

1 Comment

  1. Bintang August 23, 14:30

    Bisa minta info no telp petugas haji dari tapsel kloter yg berangkat tgl 11 agustus 2017 dr sipirok..msu nelp ibunda kami

    Reply to this comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*