Respon Jemaah Jadi Motivasi Petugas Haji

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq September 6, 2018 02:05

Respon Jemaah Jadi Motivasi Petugas Haji

Petugas haji Indonesia boleh menarik napas lega. Setidaknya sejauh ini pengurusan dan pelayanan jamaah haji Indonesia telah berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Salah seorang jamaah haji, Mujahid, misalnya menyatakan respon positipnya. “Saya melihat sudah positip. Pelayanan para petugas yang diberikan kemaren sewaktu di Madinah sudah baik. Tapi saya rasakan pelayanan di Makkah lebih baik lagi,” ujar bapak berusia 61 tahun asal Garut, Jawa Barat itu.
Mujahid yang bekerja sebagai penjahit itu mengaku mendaftar haji sejak tahun 2012. Kini ia tinggal di Hotel Rehhal Mina, daerah Syisya. Daerah itu termasuk wilayah Sektor 1 Makkah.
Kendati lokasi hotelnya agak jauh dari Masjidil Haram, baginya tidak masalah. Toh sudah ada bus Saptco yang standby untuk mengantar jamaah yang mau shalat berjamaah di Masjidil Haram. Lebih dari itu, menurutnya kamar hotel pun terasa lebih nyaman.
“Kamar di hotel lebih nyaman, fasilitas lumayan bagus. Makanan juga terasa lebih enak. Saya bisa menikmati dan makan sampai habis,” katanya lagi dengan logat Sunda.
Respon positip yang diberikan jamaah seperti Mujahid, boleh jadi layaknya pil motivasi bagi para petugas haji Indonesia di Arab Saudi. Namun yang jelas, baiknya pelayanan yang telah diberikan kepada para jamaah haji Indonesia tentu tak terlepas dari keberhasilan dan kerja keras petugas haji kita.
Para petugas yang terdiri dari sejumlah unsur seperti kalangan mahasiswa, mukimin, serta unsur lainnya, senantiasa bekerja dengan semangat dan penuh dedikasi. Di antaranya seperti ditunjukkan oleh Mohammad Amrul Irsyadi, mahasiswa Indonesia yang tengah kuliah di Univ. Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia bertugas untuk memberikan pelayanan kepada para jamaah terkait pembagian kamar, pengaturan dan pengecekan fasilitas, membagikan catering, hingga pemberian informasi dan guiding. Ia bertugas di Hotel Kiswah di daerah Jarwal, Mekkah.
“Ada 5.092 jamaah haji Indonesia yang harus kami atur di hotel ini. Mereka kami bagi ke dalam 1.315 kamar di dua gedung hotel kami, ” katanya menerangkan.
Keterangan Amrul Irsyadi diamini oleh Nurul Taufik, rekan timnya. “Iya benar, kami mesti melayani dan mengatur jamaah sebanyak itu. Kami harus pandai memenejnya karena keterbatasan tenaga, meski kadang merasa kewalahan juga,” kilah Taufik yang bertugas di Sektor 11 Makkah.
Namun demikian Taufik yang merupakan mahasiswa di Universitas Islam Madinah, memandang pelayanan tahun ini sudah lebih baik dari pada tahun kemarin. Ia yang berasal dari Bogor mengaku turut menjadi panitia haji tahun 2017.
Semangat dan etos kerja yang sama, terlihat pada Mohamad Zuhdi. Salah seorang petugas lain di bidang transportasi. Ia bertugas membantu pengaturan jamaah yang menggunakan sarana transportasi bus Saptco di area parkir Masjidil Haram. “Saya bertugas di area Masjidil Haram ini dengan sistem shift. Meski tidak mudah, tapi saya senang bertugas di sini dan bisa membantu jamaah,” terang Zuhdi yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pemuda yang tengah menempuh kuliah di kampus Madinah itu bertugas dari pukul 10.00 malam hingga 6.00 pagi. Menurutnya kendala yang dirasakan yakni saat mata agar berat atau mulai mengantuk. Juga pengaturan jamaah yang jumlahnya banyak dan sering menumpuk saat usai shalat. Apalagi jamaah yang bercampur dengan jamaah dari berbagai negara lain. Sehingga bukan hanya jamaah haji Indonesia yang dilayani, tak jarang pula mesti menjelaskan atau membantu mengarahkan jamaah dari negara lain.
Lain lagi dengan M. Monir Suri Margo. Lelaki asal Sampang, Madura itu disibukkan dengan tugasnya sebagai Tim Bravo di Daerah Kerja (Daker) Makkah, PPIH Arab Saudi. “Saya bertugas dari jam 11.00 malam sampai pagi jam 7.00. Nanti digilir dengan sistem shift dengan dua rekan lainnya,” katanya menerangkan.
Sering ia bertugas sendirian saat tugas shift malam. “Kalau lagi tugas malam saya jadi kayak tukang jaga malam, kaya ronda saja,” katanya setengah berkelakar. Jangan ditanya soal tantangan yang dihadapi, ia pasti akan buru-buru menjawab, “Yang paling berat tentu melawan kantuk yang menyerang pada jam-jam genting sekitar jam 2-3 dini hari.”
Bila sudah begitu biasanya ia akan segera mencari kopi dan menyeduhnya. “Biar kuat melek dan begadangan,” katanya. Selain itu, kadang ia juga didera lapar. “Ini yang agak sulit, karena di sekitar kantor kami tidak ada orang yang berjualan makanan. Jadi kalau tengah malam saya merasa lapar, harus bikin indomie sendiri, klotrak-klotrak di dapur kayak tikus,” ceritanya sambil menahan tawa.
Malahan, katanya, ia kerap harus membawa alat komunikasi bravo kemana-mana. “Saat banyak arus komunikasi dan informasi, Hp bravo saya bawa kemana-mana, pas shalat, makan, dan bahkan juga di WC. Jadi kita di WC sambil bravo-bravo …,” katanya sambil terkekeh.
Hari-hari belakangan pria yang biasa dipanggil Cak Munir ini, tambah kelihatan sibuk. Karuan saja, sebab jamaah haji Indonesia semakin banyak yang berdatangan di Makkah. Di samping para jamaah yang datang dari Madinah, sekarang juga mulai banyak yang datang dari Jeddah. Mereka datang dari Indonesia melalui bandara Jeddah.
Tentu masih banyak petugas haji Indonesia lainnya yang menunjukkan semangat dan dedikasinya meski menghadapi kendala dan tantangan yang tidak ringan. Seberat apapun tugas yang diemban, sudah menjadi komitmen bersama. Namun adanya respon positip jamaah akan menjadi pil motivasi yang menambah semangat dalam pemberian pelayanan terbaik. Sehingga jamaah haji kita beroleh kemudahan dalam beribadah dan upaya mencapai derajat kemabruran.(Syarofin/P-PPIH)

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq September 6, 2018 02:05
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*