Puncak Haji 2018 Berjalan Lancar dan Aman

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq August 26, 2018 11:54

Puncak Haji 2018 Berjalan Lancar dan Aman

Pelaksanaan puncak ibadah haji tahun 2018 berjalan lancar dan aman. Hampir 2, 4 juta orang – 217.000 diantaranya berasal dari Indonesia – dapat menyelesaikan seluruh rangkaian rukun dan wajib haji tanpa ada gangguan maupun insiden yang berarti.
Malam sebelum wukuf yang jatuh tanggal 9 Dzulhijah 1439 H (20 Agustus 2018), Padang Arafah sempat disiram hujan dan badai angin yang menyebabkan beberapa tenda jemaah program haji khusus diberitakan rusak. Namun kondisi tersebut segera dapat dikendalikan petugas sehingga tidak sampai jatuh korban jiwa.
Guna memastikan tidak ada jemaah haji Indonesia yang tertinggal di Arafah, PPIH Arab Saudi melakukan “sweeping” ke 165 hotel yang menjadi tempat pemondokan jemaah di kota Mekkah.
Direktur Bina Haji Kemenag Khoirizi Dasir mengatakan keberangkatan jemaah haji dari Mekkah ke Arafah mulai dilakukan sejak tanggal 8 Dzulhijah dengan tiga jadwal keberangkatan, pagi, siang dan malam hari. Namun sejumlah petugas ditugaskan tetap berada Mekkah hingga dini hari 9 Dzulhijah untuk memastikan tidak ada satupun jemaah yang tertinggal di Mekkah.
Pelaksanaan wukuf di Arafah berjalan dengan tertib dan aman. Sempat terjadi insiden kecil ketika beberapa oknum Maktab yang tidak bertanggungjawab bermaksud “menyelundupkan” sejumlah haji furoda dalam tenda jemaah haji Indonesia. Tetapi tindakan tidak bertanggungjawab itu tercium petugas dan langsung dilaporkan ke penanggungjawab Maktab sehingga jemaah haji yang sempat terusir dari tenda mereka mendapatkan kembali haknya.
Hampir seluruh jemaah haji Indonesia mengikuti anjuran pemerintah agar sebanyak mungkin berada dalam tenda untuk menghindari “heat stroke”. Namun demikian karena kondisi kesehatan tertentu, tujuh orang jemaah diberitakan wafat selama pelaksanaan ibadah wukuf.
Seusai melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar, jemaah haji Indonesia bersiap-siap untuk berangkat ke Muzdalifah yang jaraknya hanya lima kilometer dari Padang Arafah. Karena jaraknya yang pendek saja, maka kendaraan yang membawa jemaah dari Arafah ke Mina dibatasi hanya tujuh bis per maktab. Terbatasnya jumlah bis ini menyebabkan pengangkutan jemaah haji ke Muzdalifah berlangsung hingga tengah malam.
Di Muzdalifah jemaah berhenti sejenak untuk mengumpulkan batu yang akan digunakan untuk melontar jumrah di Mina. Dari Muzdalifah jemaah melanjutkan perjalanan ke perkemahan mereka di Mina.
Jemaah haji yang mengambil “Nafar Awal” wajib bermalam di Mina selama dua malam, sedangkan yang memutuskan “Nafar Akhir” harus mabit hingga tiga malam. Sebanyak 112.552 jemaah haji Indonesia tercatat melakukan nafar awal dan 77.937 orang memilih nafar tsani. Sementara 401 orang ditanajulkan dan yang disafariwukufkan mencapai 142 orang.
Total 203.351 jemaah haji regular dan 16.905 jemaah khusus menempati tenda tenda yang tersebar di 71 maktab. Satu maktab mampu menampung 3000 orang. Maktab terdekat terletak tak jauh dari terowongan Muasim yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari komplek pelemparan Jamarah . Namun tujuh maktab Indonesia terletak di wilayah Mina Jadid yang jaraknya sekitar tujuh kilometer.
Pemberangkatan jemaah dari Muzdalifah ke Mina juga berlangsung sepanjang malam hingga melewati subuh tanggal 10 Dzulhijah .
Adalah sungguh wajar bila keberhasilan pergerakan manusia dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang terbatas oleh sebagian besar orang dianggap semata-mata karena pertolongan Allah SWT.
Pada tanggal 10 Dzulhijah, jemaah haji Indonesia sejak matahari terbit bergerak perlahan-lahan menelusuri jalan dan terowongan menuju Komplek Jamarah untuk melaksanakan “Jumrah Aqabah” . Adapun waktu yang diutamakan untuk melakukannya adalah sepanjang hari tanggal 10 Dzulhijah hingga matahari terbenam. Tetapi para ulama memberi kemudahan bagi mereka yang sakit atau uzur dapat menundanya hingga malam hari.
Setelah melakukan jumrah Aqabah, jemaah haji pulang ke tenda-tenda mereka dengan kembali berjalan kaki sepanjang tiga sampai tujuh kilometer.
Mengingat jauhnya jarak yang harus ditempuh tersebut, jauh-jauh hari PPIH Arab Saudi sudah menghimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri melakukan pelontaran batu karena jika memiliki alasan yang syar’i, pelaksanaannya dapat diwakilkan.
Dalam mengantisipasi banyaknya jumlah jemaah yang sekiranya membutuhkan pertolongan pertama selama pelaksanaan jumrah, PPIH Arab Saudi membentuk tim khusus beranggotakan 233 petugas. Tim khusus yang disebut Tim Mobile Crisis & Rescue (MCR) bersiaga di dua jalur , yaitu jalur bawah (Muassim – Syisyah ) dan jalur atas ( Kantor Misi Haji Mina hingga Jamarat).
Menurut data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) 22 orang jemaah wafat selama fase Mina.
(dsuita/p-ppih)

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq August 26, 2018 11:54
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*