Para Perindu Arafah

Slamet Sudiyanto
By Slamet Sudiyanto April 23, 2016 19:43

Para Perindu Arafah

Ketika saat itu tiba, ketika taburan cahaya indah itu ditebar walau sesaat, pikiran terbang menuju Arsy penuh muatan dzikir dan talbiyah, bukan pikiran kosong dan bukan juga sebuah lamunan”

Panas, padat, kemacetan dimana-mana, riuh, ketegangan, cemas, dan berbagai macam aktivitas ibadah dipertontonkan dan dijalani dengan tulus dan ikhlas. Seakan untuk menunjukkan kepada Sang Penguasa Alam bahwa kami datang ke Bait al Atiq atas panggilan-Nya dan sebagai bentuk kehambaan yang hakiki untuk menyantap hidangan ilahi di Padang Arafah.

Semua orang terlihat tergesa-gesa kala akan menyambut beberapa hari lagi peristiwa penting, sebuah peristiwa yang tidak semua orang dapat mengikutinya, wukuf di Padang Arafah.

Ekspresi penyesalan, kesedihan, keceriaan lebur terlihat jelas pada wajah-wajah lusuh berdebu, lelah dan sedikit kumal. Airmata penyesalan keluar, seolah menyampaikan pesan bahwa mengapa tidak dari dahulu dapat menghadiri undangan itu. Sedih, karena begitu banyaknya perbuatan yang tidak pantas dilakukan sebelumnya. Ceria, karena akan menyambut hamburan dan melimpahnya hidangan ilahi dengan taburan-taburan cahaya yang indah. Sangat berbeda dengan saat mengunjungi pusat-pusat wisata mancanegara, dan terlena dengan hedonisme konsumtif serta aktualisasi diri yang hanya menyentuh pada kulit dan pikiran, jauh dari sentuhan emosional perasaan.

Hamparan kekeluargaan dibentang, memiliki rasa persaudaraan yang sangat tinggi tanpa batas. Tidak mengenal status sosial apapun. Semua melebur dalam kedamaian kekeluargaan dan tolong menolong yang sangat tinggi. Tanpa instruksi, mengalir dalam panggilan kejiwaan yang mendorong kuat untuk berbuat kebaikan. Wajah-wajah orang yang dicintai hadir dalam kerumunan ibadah itu, jelas dan nyata. Bibir-bibir kering bergumam melantunkan dzikir disetiap saat dan disetiap waktu.

Mempersiapkan dan membekali diri untuk dapat berkonsentrasi penuh dalam menyantap hidangan ilahi itu. Dan akhirnya, hari yang dinantikan itupun tiba.

Padang tandus itu ramai dengan lilitan putih, bagai tebaran permadani putih, bagai kumpulan pinguin, bagai hamburan kapas-kapas putih tebal yang menyelimuti padang pasir itu. Gema talbiyah, gema dzikir, gema isak tangis terdengar sangat sahdu. Instrumental yang tidak dapat dinotasikan dalam sebuah musik. Ketika saat itu tiba, ketika taburan cahaya indah itu ditebar walau sesaat, pikiran terbang menuju Arsy penuh muatan dzikir dan talbiyah, bukan pikiran kosong dan bukan juga sebuah lamunan.

Panasnya Arafah menjadi sejuk untuk sesaat. Saat itulah, puncak dari kehambaan yang menikmati hidangan yang sangat nikmat sekali, bahkan bagai dedaunan kering, penikmat itu jatuh dan merindu kepada nur-Nya agar kenikmatan itu terus dirasakan dan enggan untuk dilepaskan, doapun diijabah, wafat. Wafat dalam keadaan ihram, sahid dalam pelukan talbiyah dan selimut Arafah. Beruntunglah mereka yang tidur dengan ihramnya dan akan bangkit kemudian dengan talbiyah untuk menyelesaikan hajinya. Beruntunglah mereka yang telah menikmati hidangan ilahi dalam hamparan padang yang luas dengan menu yang diracik dan disajikan langsung oleh Yang Maha Agung. Ya Allah, undanglah kami, panggillah kami untuk dapat kembali menyantap hidangan-Mu dan kembali kepada-Mu dengan jiwa yang tenang, ya ayyatuhan nafsul muthmainnah.

Slamet Sudiyanto
By Slamet Sudiyanto April 23, 2016 19:43
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*