Melayani Jemaah Haji, Mengejar Pahala

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq July 15, 2018 23:39

Melayani Jemaah Haji, Mengejar Pahala

Setelah mengikuti serangkaian proses perekrutan akhirnya 891 orang yang terseleksi sebagai tenaga musim haji di Arab Saudi tahun 2018 mulai menjalankan tugas mereka menjadi “pelayan” tamu-tamu Allah di tanah suci.

Dengan wajah ceria, mereka memenuhi halaman Kantor Urusan Haji (KUH) di Jeddah untuk bersama sama mengikuti masa orientasi yang akan memberikan pembekalan  agar mereka dapat menjalankan tugas sebaik baiknya.

Tujuan orientasi ini juga untuk membentuk petugas haji yang berintegrasi dan berkualitas, kata Ahmad Dumyathi Bashori, Pimpinan KUH.

Setiap tahunnya, KUH merekrut WN Indonesia yang sedang bermukim di Arab Saudi untuk menjadi tenaga pendukung PPIH Arab Saudi.

Untuk mendapatkan tenaga yang berkualitas KUH mengorganisir proses perekrutan yang transparan dan terbuka. Kesempatan terbuka untuk semua WNI berdomisili di Arab Saudi yang memenuhi sejumlah persyaratan. Proses rekrutmen dimulai dari registrasi online, tes tertulis, interview dan tes praktek.

Dari lebih 1600 pendaftar, terseleksi 665 orang untuk bekerja  sebagai tenaga musim haji ditambah 169 orang terpilih dari unsur Kementerian Kesehatan dan 125 mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di berbagai Universitas di Timur Tengah.

Motivasi menjadi temus dapat bermacam-macam tetapi semua bermuara kepada keinginan untuk membantu Jemaah haji mencapai kemabruran haji, dengan harapan “kecipratan” pahala yang dijanjikan Allah SWT.

Misalnya Byan Aqila Ramadhan, yang tinggal di kota Riyadh, menuturkan bahwa memilih menjadi petugas haji merupakan satu keistimewaan. Byan, demikian pria ini biasa disapa,  mengungkapkan  sudah tiga tahun berturut-turut  dia menjadi petugas haji.
“Pertama kali, tiga tahun lalu ikut menjadi petugas Armina, tahun lalu ikut Temus dan tahun ini juga ikut,” kata Byan.
Byan merasa cocok dengan bidang pekerjaan transportasi. Menurutnya, bidang jni sesuai dengan pribadinya yang suka bergaul dengan banyak orang.
“Enak sih transportasi. Tahun lalu juga senang pilih bidang ini,” ujar Byan.
Mahasiswa King Saud University, Riyadh ini blak-blakan mengungkapkan alasannya ikut menjadi petugas haji.
“Saya ini suka kegiatan sosial, jadi cocok banget kalau ikut even seperti ini,” terang Byan.

Byan tak memungikiri, adanya honor juga menjadi salah satu yang mendorongnya untuk bergabung dengan tim ini.
“Yang pertama sih jelas ya, untuk ibadah. Tapi realistis juga, ikut ini karena honornya lumayan,” papar Byan.

Saat ditanya tentang perizinan dari kampus, pria asal Bogor ini menjelaskan bahwa itu tak masalah. “Saya ikut jadi petugas ini dapat surat izin resmi dari kampus,” terang Byan.
Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI)  Arab Saudi ini senang dengan kesempatan yang dia miliki. Dia bertekad akan menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin.

SUDAH LAMA TERTARIK

Berbeda dengan Byan, Ulil Amri, pria asal Jakarta ini baru pertama bergabung menjadi petugas haji pada tahun ini. Padahal, keinginannya untuk menjadi petugas haji sudah ada sejak beberapa tahun silam.
“Di Saudi sudah 7 tahun, tapi baru kali ini bergabung menjadi petugas haji,” kata Ulil.
Ulil saat ini bekerja menjadi sopir di kota Mekkah. Selama ini dia tidak mendapatkan izin dari majikannya. “Baru kali ini dapat izin, karena tugas saya sudah banyak berkurang, apalagi saat musim haji, anak sekolah yang biasa saya antar, sedang libur,” kata Ulil.
Senada dengan Byan, alasan Ulil ikut menjadi petugas haji, tidak murni untuk mengejar honor yang disediakan.

“Ini kan kerja tapi ada unsur ibadah, jadi saya senang sekali bisa ikut,” terang Ulil.
Seandainya pun tidak digaji, Ulil siap turut serta dalam tugas ini, hanya tidak bisa full time dalam bekerja.
“Mau aja sih seandainya tidak digaji, jadi relawan aja, tapi tidak full kerjanya,” kata Ulil sambil diiringi tawa.
Ulil memilih bidang pekerjaan transportasi. Dia beralasan, karena bidang ini punya andil besar dalam mengantar jamaah ke Masjidil Haram untuk sholat.
“Bayangkan. Sholat di Masjidil Haram itu pahalanya besar banget, maka semoga saya yang bertugas di bagian transportasi ini mendapatkan bagian pahala juga, ujar Ulil.

DISURUH MAJIKAN

Jika Byan dan Ulil ikut menjadi petugas haji karena inisiatif sendiri, Abdullah Salmin, pria asal Cirebon ini turut bergabung dalam Temus berawal dari perintah majikan.

“Delapan tahun saya di Saudi. Baru dua kali ikut Temus. Itupun karena didukung penuh oleh majikan,” kata Abdullah.
Abdullah bercerita, tahun lalu dia memilih bidang pekerjaan pengemudi, tetapi oleh atasan, dipindah ke bagian katering. Tahun ini dia memilih sebagai pengemudi kembali.
“Saya ini supir bus yang biasa bawa jamaah umrah. Jadi kemana-mana nyupir mobil. Tapi kalau Temus sekarang dipindah ke bidang lain lagi, ya sami’na wa atho’na,” ujar Abdullah.
Abdullah jujur mengungkapkan bahwa ikut Temus membuat penghasilannya semakin bertambah. “Ya ibadah sih, mengejar pahala tapi kan honornya juga besar,” terang Abdullah sambil tertawa. (Budi-DSuita/P-PPIH)

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq July 15, 2018 23:39
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*