Konsumsi Jemaah Haji, Tantangan

Kurniawan
By Kurniawan August 5, 2016 10:26

Jeddah (KUHI) –Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama RI senantiasa berjuang untuk selalu memperbaiki pelayanan kepada jemaah haji Indonesia termasuk pelayanan katering. Di hari kedua sesi pertama, bagian kedua nara sumber orientasi diberikan kepada Kepala Bidang Katering Haji, Elmiyati.

Elmiyati berbicara panjang lebar mengenai konsumsi jemaah haji Indonesia, baik tantangan, permasalahan dan perbaikan serta kebijakan baru terkait katering haji tahun 2016. Pelayanan konsumsi kepada jemaah haji Indonesia meliputi pelayanan konsumsi Jeddah, Madinah, Makkah dan Armina .

Menurut Elmiyati, ada kebijakan baru terkait pelayanan konsumsi tahun ini yaitu, Pemberian air minum “selamat datang” di Madinah pada saat jemaah tiba di hotel. Menambah pemberian makan di Makkah menjadi 24 kali (makan siang dan malam). Tambahan layanan di Armina yaitu penggunaan karpet dan Es batu di masing-masing Tenda dan Melakukan repeat order (kontrak ulang) kepada perusahaan yang mempunyai kinerja baik tahun lalu.

Elmiyati juga memaparkan tentang tantangan-tantangan yang dihadapi dilapangan terkait konsumsi jemaah haji Indonesia, sehingga nantinya petugas dapat mengantisipasi dan mencegah sedini mungkin. Berikut tantangan dan permasalahan yang dihadapi di Madinah. Pada awal pelayanan tidak memiliki stock bahan baku dan tenaga kerja yang cukup. Jemaah dalam satu kloter menempati lebih dari satu hotel. Petugas distribusi perusahaan katering tidak memahami lokasi hotel tempat tinggal jemaah haji Indonesia. Pihak hotel yang tidak mengizinkan perusahaan katering mendistribusikan makanannya di dalam hotel. Pihak perusahaan mengganti menu tanpa memberikan informasi terlebih dahulu kepada pengawas katering dan Terlambat mendistribusikan kelengkapan konsumsi.

Sementara itu tantangan atau permasalahan konsumsi jemaah haji di Makkah adalah, Pada awal pelayanan tidak memiliki stock bahan baku dan tenaga kerja yang cukup. Perusahaan katering mendistribusikan makan tidak menggunakan heater atau foodwarmer. Pemilik hotel tidak menyiapkan ruang distribusi makan dan penyimpanan buah dan air minum serta daya listriknya. Juru masak yang di pekerjakan dibawah standar yang ditetapkan. Pemilik perusahaan katering yang memiliki lebih dari satu dapur, pada saat pelayanan hanya menggunakan  satu dapur. Keterlambatan distribusi. Cita rasa masakan Indonesia kurang terasa karena perusahaan katering umumnya orang Arab, Mesir dan Turki, yang memiliki masakan & cita rasa yang berbeda dengan masakan Indonesia. Perusahaan katering yang mendistribusikan makanannya dalam satu waktu kebeberapa rumah. Sulitnya melakukan kordinasi dengan perangkat kloter karena mereka umumnya tidak memiliki nomor Arab Saudi/HP Android. Perusahaan katering tidak ada yang menyampaikan sampel setiap waktu makan untuk memonitor kesesuaian menu, gramasi, citarasa dan untuk pengujian organoleptik. (akn/kuh)

Kurniawan
By Kurniawan August 5, 2016 10:26
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*