Dapat Tiket Bodong, Jemaah Umroh Tertunda Pulang

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq May 4, 2018 19:37

Dapat Tiket Bodong, Jemaah Umroh Tertunda Pulang

Jeddah (KUH-KJRI) Kasus penelantaran jemaah umroh kembali terjadi. 12 orang jemaah yang sebagian besar dari Bekasi ini mendapatkan pelayanan yang tidak selayaknya dari travel yang menghandelnya. Dan bahkan kepulangannya ke tanah air sampai tertunda 2 hari dan akhirnya bertahan di sebuah hotel di Jeddah. Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI Jeddah menerjunkan 3 personil untuk penanganan kasus ini ke tempat kejadian setelah mendapat arahan dari Staft Teknis Haji (STH) 1 Ahmad Dumyathi Bashori.

Awalnya, informasi mengenai kasus tersebut diperoleh Ahmad Dumyathi dari salah seorang warga yang melapor langsung kepadanya via Whatsapp dan juga informasi dari KJRI Jeddah. “Ini ada laporan dari warga dan KJRI, ada jemaah terlantar di bandara (lokasi awal terjadinya kasus, red), tolong segera ditindak lanjuti ke lokasi”, kata Dumyathi yang juga biasa disebut Konsul Haji di wilayah Arab Saudi kepada divisi pelayanan umroh dan tim media saat mengunjugi kantor pada jumat pagi (4/5).

Menurut Dian Rustandi salah satu dari jemaah tersebut, rombongannya berangkat dari Jakarta pada tanggal 23 April. Mereka diberangkatkan oleh travel PT.FSI, namun ternyata kemudian diketahui yang bertanggung jawab dalam agenda perjalanan umrohnya adalah travel IMI. “Keberangkatan dari Jakarta tanggal 23 April hari senin, melalui travel FSI”, Kata Dian Rustandi.

Pada saat pemberangkatan, sudah tampak kejanggalan pada pelayanan travel IMI. Semula rombongan jemaah tersebut dijanjikan akan terbang menggunakan pesawat Garuda dari Jakarta menuju Jeddah. Namun, yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. “Di awal keberangkatan kita dijanjikan naik Garuda menuju Jeddah. Tapi saat pemberangkatan, dengan berbagai alasan kita diberangkatkan melalui Malaysia. Pertama kita naik Lion berangkat jam 14.00, sampai Malaysia sekitar jam 17.30. Setelah tansit kemudian berangkat menggunakan Air Asia menuju Madinah bukan ke Jeddah. Dan sampai di Madinah pukul 5 pagi”, ungkap Dian Rustandi.

Tidak hanya sampai pada kejanggalan itu, saat tiba di bandara Madinah pun Dian Rustandi yang berprofesi sebagai pengacara itu menyampaiakan ada kejanggalan lainnya. Tidak ada servis untuk pengurusan barang menuju sarana transportasi yang digunakan. ”Di bandara Madinah ternyata kita tidak selayaknya orang-orang umroh, yang begitu datang disambut oleh porter yang sudah dibayar kita tinggal jalan aja”, kata Dian.

“Ternyata disitu juga ada keanehan, karena untuk pemberangkatan tidak banyak uang yang dibawa oleh mutowwif, artinya itu sudah kelihatan, sebenarnya pembiayaannya ngepres. Di situpun sudah ada pertengkaran dengan para porter, katanya mutowif kita gak punya uang. Karena rombongan jemaah memang dari sana transit dan sebagainya, alasannya begitu. Memang keadaan pembiayaan sepertinya memprihatinkan”, ungkap Dian.

Selama di Madinah tidak terjadi permasalahan. Namun, setelah agenda akan berlanjut menuju ke kota Makkah permasalahan kembali terjadi. Terdengar kabar bahwa hotel yang mereka tempati belum dilunasi. Tapi tidak lama berselang, akhirnya masalah itu berhasil diatasi. “Selama di Madinah saya memang tidak mendengar ada sesuatu yang ganjil. Tapi sempat ada kabar, hotel yang kami tempati belum di bayar. Tapi alhamdulillah kemudian sudah ditransfer dan kemudian dibayar”, kata Dian.

Setelah agenda di Madinah selesai, rombongan jemaah bergerak ke Makkah. Di Makkah pun ada ketidak sesuaian jadwal. “Kemudian kita menuju ke Makkah dan masuk ke hotel Tharawat. Kita 4 hari disana, nambah 2 hari sampai hari kamis, seharusnya hari selasa kita sudah check-out dari hotel”, tegas Dian.

Setelah tiba jadwal kembali ke tanah air, rombongan nahas tersebut kembali mengalami permasalahan pada tiket pesawat yang akan mereka gunakan untuk pulang.” Di hari selasa itu, mutowif sudah membawa jadwal ticket. Memang di paspor kita sudah ada seperti order tiket, kesannya seperti itu. Jadwal itu di keluarkan oleh GN dari Jakarta. Ia bisa memberikan jadwal tiket kami. Keberangkatannya dibagi menjadi 3, yang pertama jam 4.30, 6.30, dan 7 malam. Dan sudah dibagi yang pertama 8 orang, yang ke dua 2 orang, yang terakhir 2 orang. Tapi setelah kami cek ke Saudi Airine ternyata tidak ada tiket itu. Kami bersabar karena waktu itu sedang umroh”, tuturnya.

Tim pelayanan dan penanganan kasus umroh KUH KJRI memediasi dengan muasasa atau perusaan penyedia visa yang berada di wilayah Arab Saudi. Akram, direktur perusahaan penyedia visa di wilayah Arab Saudi berhasil dikontak oleh Rumli Muliat salah satu tim yang ditugaskan KUH KJRI. Hingga akhirnya direktur muasasa tersebut turut hadir bersama Syamsul Ma’rif asistennya ke hotel transit jemaah umroh tersebut di Jeddah. Saaa dikonfirmasi oleh tim dari KUH KJRI, Akram sempat menyatakan tidak tahu kalau ada jemaah yang tidak bisa pulang dan menggunakan visa dari perusahaannya.

Sempat terjadi ketegangan saat Akram menghubungi SM via telepon, salah satu oknum dari perusahaan FSI. SM yang seharusnya bertanggung jawab atas pengeluaran visa jemaah tersbut. Dan ternyata belakangan diketahui pengeluaran visa tersebut tanpa sepengetahuan penanggung jawab PT FSI. “Visa yang digunakan para jemaah ini berasal dari muasasa yang bermitra dengan PT. FSI. Tapi ternyata visa tersebut dikeluarkan oleh SM tanpa sepengetahuan HD penanggung jawab di PT. FSI”, ungkap Rumli kepada tim media.

Akhirnya kesepakatan pun berhasil tercapai, muasasa akan menanggung pembiayaan kepulangan jemaah tersebut. Direktur muasasa tersebut menyatakan akan membiayai pemulangan jemaah dan akan mengganti kerugian yang dialami selama tinggal di Arab Saudi. Kemudian dipertegas oleh Samsul Ma’arif dengan menterjemahkannya ke jemaah. (Zky.KUH)

Zaky Mubaraq
By Zaky Mubaraq May 4, 2018 19:37
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*