Aku Lupa, Ya Rabb Maafkan Aku

Slamet Sudiyanto
By Slamet Sudiyanto April 23, 2016 19:06

Related Articles

Telapak tangan kita saat lahir tak lebih dari seruas jari orang dewasa. Hanya menangis yang kita tahu ketika lapar, haus ataupun sakit, mengadu pada ibu dan ayah. Hanya tertawa yang kita tahu mungkin saat kita merasa senang hati dengan candaan ibu atau cilukba nya ayah.

Ibu menjaga, merawat dan membesarkan kita. Ayah menafkahi kita dengan tenaga, keringat dan perjuangannya. Mereka hidup untuk kita, karena kita adalah buah cinta dan kasih mereka. Mereka tak kenal menyerah, lelah mereka sirna hanya dengan senyum mungil yang kita berikan.

Saat kita beranjak dewasa, tanpa sadar sering kita membuat mereka sedih. Kita bantah seolah kita lebih pintar dan cerdas dari mereka. Tahukah bahwa nada yang kita kenal dalam syair dikenalkan mereka pada kita, setidaknya nada syair cicak cicak didinding. Begitu juga dengan nama-nama benda, satwa, tumbuhan yang ada disekeliling kita, merekalah yang mengenalkan. Angka dan huruf juga merekalah yang mengenalkan.

Ibu, Ayah sering mengingatkan kita agar tak telat makan, mengerjakan ibadah dan lainnya. Kita malah mengatakan mereka bawel, mereka cerewet. Ayah mengingatkan kita menghargai waktu, kita katakan ayah sok tahu. Ibu meminta agar kita memberi kabar ketika kita berpergian, kita katakan ibu mau tahu. Mereka sayang sama kita. Ayah, ibu hanya diam dan tak mau berdebat dengan kita. Tahukah kita bahwa jauh dilubuk hati mereka, mereka selalu berdoa untuk kita, untuk kebaikan dan hal yang terbaik bagi kita hari ini esok dan selamanya. Mereka memberikan yang terbaik baik kita, tak mengharapkan apapun dari kita nantinya. Karena kita adalah buah cinta mereka, buah hati, pelita bagi mereka ketika mereka menua nanti.

Saat kita dewasa, ketika kita mandiri, kita sukses, kita berhasil. Mereka tersenyum bangga. Ketika kita susah, merekalah yang sebenarnya sangat susah. Mereka berfikir keras bagaimana agar kita maju dan berubah.

Hari, bulan, tahun terus berjalan dan yang hanya dalam benak mereka adalah untuk memberikan yang terbaik bagi kita. Bahkan hal yang bersifat ibadah pun mereka lupakan untuk itu. Hingga diusia mereka yang mulai menua, kita lupa bahwa mereka belum berhaji, belum berumrah. Bukan mereka tidak mau saat mereka muda dulu. Namun mereka khawatir meninggalkan kita saat mereka berada di Tanah Suci.

Saat kita dewasa dan saat itu pula mereka mulai menua, sepertinya ibadah haji dan umrah menjadi impian mereka yang belum tercapai. Mereka sadar, mereka tak mampu melaluinya jika tidak didampingi. Mengatakan kepada kitapun mereka sungkan, karena kita sudah tidak sendiri lagi, ada istri dan anak. Mereka tak ingin menyusahkan kita.

Selalu mereka berdoa untuk dapat berkunjung ke Tanah Suci. Hanya itu yang mereka perbuat ditengah menuanya tubuh. Tahukah kita akan itu? Pernahkah kita menyatakan impian mereka dengan mendaftarkan mereka untuk dapat beribadah. Beribadah bersama mereka, mendampingi mereka, mengurus segala sesuatunya, dan menggendong mereka ketika mereka letih saat beribadah nanti?

Mungkin kita tidak tahu, karena kita sibuk dengan dunia kita sekarang. Kita tak tahu bahwa ada doa yang dipanjatkan mereka ketika malam dengan cucuran air mata dan mengadu pada Ilahi Rabbi agar diberikan jalan kepada mereka untuk dapat berkunjung ke Baitullah.

Ya Rabb maafkan kelupaanku, Ya Rabb ampunkan aku. Masih ada kesempatan ya Rabb, masih ada kesempatan untuk meraih surga itu ketika Ayah dan Ibuku masih ada. (AR/KUH)

Slamet Sudiyanto
By Slamet Sudiyanto April 23, 2016 19:06
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*